On Her Shoulders merupakan film dokumenter besutan Alexandria Bombach, seorang produser berkebangsaan Amerika Serikat. Alexandria dalam film ini mengajak penonton untuk mengikuti penyintas genosida muda bernama Nadia Murad dalam perjuangan melawan dunia kekerasan seksual. Nadia Murad dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2018 silam.

Perempuan serta anak perempuan di lingkungannya menjadi incaran kekejaman seksual yang meluas serta sistematis oleh ISIS. Organisasi ekstremis menganiaya serta melakukan hal kejam lain pada komunitasnya di Irak, dengan berdasar identitas agama mereka. Nadia Murad, ditangkap 2014, lalu dipaksa menjadi budak seks sebelum pada akhirnya berhasil melarikan diri.

Setelah menderita serta banyak kehilangan anggota keluarga, Nadia Murad mengambl keputusan membuka suara komunitasnya agar dapat pulih dari genosida dan mencari keadilan. Film dokumenter ini mengambil gambar tema universal terkait kesaksian dalam seni dan politik, yang berabad-abad lamanya sudah menjadi terkenal dalam musik, sastra, dan film. Sebagai sutradara serta produser, Alexandria Bombach turut serta dalam perjuangan Nadia Murad yang secara halus mengilustrasikan tema film ini tepat dicirikan sebagai kesaksian abadi semangat manusia yang tidak bisa dihancurkan.

Ketika ISIS menyerang, Nadia Murad berusia 19 tahun. Tanah kelahiran Nadia Murad di wilayah Irak Utara, tepatnya Sinjar. Nadia Murad tinggal bersama komunitas adat Yazidi. Identitas keagamaan di Yazidi berakar pada pra-Abraham serta berbeda dari Islam atau Kristen. Kelompok ekstremis seperti ISIS menganggap komunitas seperti Yazidi sebagai murtad, akibatnya keyakinan mereka dijadikan target yang sah untuk dihancurkan. Oleh sebab itu, kaum ekstrimis berusaha membasmi dengan cara pembunuhan, pemindahan, dan bentuk kekerasan lain yang seperti dilakukan bukan oleh manusia.

Dengan latar belakang kebrutalan dan pembantaian ini, On Her Shoulders dengan cermat mengikuti kaum muda Yazidi mendirikan organisasi non-pemerintah untuk melayani komunitas mereka baik lokal serta global. Yazda, sebagai nama organisasi tersebut menjadikan Nadia Murad sebagai juru bicara ikonik ketika kampanye advokasi global dimulai. Kampanye advokasi Yazda dilakukan guna meningkatkan kesadaran para politisi serrta diplomat.

Banyak adegan On Her Shoulders melakukan penggambaran tetang bagaimana Nadia Murad serta penasihat utamanya Murad Ismael menyisiri kehidupan antara rapat panel. Rosasiva.com melihat Alexandria Bombach dan tim menekankan pengeditan akhir pidato serta berlatih di koridor kekuasaan. Nadia Murad dan penasihat utamanya tersebut menyampaikan permohonan yang mengharukan pada parlemen atau dewan kehormatan. Alexandria Bombach berhasil menangkap bagaimana Yazda mengumpulkan kekuatan berulang kali membahas dehumanisasi yang dialami Nadia Murad. Sebuah maraton pengharapan, keputusasaan agar bertemu serta mendesak pembuat keputusan global bertindak.

Tema sentral On Her Shoulders yaitu sebuah manifestasi kuat perihal komunitas genosida muncul dari rasa menjadi korban serta penghinaan mendalam. Nadia Murad meninggalkan setiap pertemuan selalu kelelahan emosional, sering gemetar, dengan air mata. Kesaksian Nadia Murad membuat pejabat setempat serta birokrat tersentuh dan terperangah akan kekejian yang dialami Yazidi.

Nadia Murad di luar lingkaran diplomatik menjadi simbol harapan untuk ribuan perempuan serta gadis Yazidi. Dalam dirinya, kaum perempuan dan gadis Yazidi menemukan suara kuat yang tak sekedar mengartikulasikan penderitaan mereka secara global, namun berkomitmen juga untuk menemukan jalan paling pantas mengatasi kesedihan dan trauma mendalam. Tak sendiri atau terlantar, ribuan gadis dan perempuan Yazidi bersama dalam solidaritas.

Dalam film, penonton dibawa ke hingar bingar dan konflik Yazda mendiskusikan strategi hukum bersama para ahli hukum internasional terkemuka. Bisa tampak bagaimanaYazda menuntut keadilan serta akuntabilitas atas kejahatan diderita oleh Yazidi. Yazda meyakinkan pakar hukum Luis Moreno Ocampo, Amal Clooney seorang mantan kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag, guna mendukung Yazda mengeksplorasi solusi hukum nasional serta internasional secara kreatif.

Ini penting sebab ISIS banyak anggotanya tidak didakwa atas kejahatan perang, pemerkosaan, dan genosida, melainkan secara kategoris dituntut sebagai anti-terorisme. Ini tak mencerminkan keadilan korban Yazidi, sebab tanggung jawab pidana dari kejahatan tertentu yang diderita tak ditangani.

Sebagai saksi dan penyintas, Nadia Murad memperjuangkan Yazda melawan kekerasan seksual genosida dengan meyakinkan. Dalam film dapat terlihat aktivismenya dipandu dengan cerdas dan efektif yang ditingkatkan selangkah demi selangkah. Gerakan organisasi masyarakat sipil dunia bisa banyak belajar dari pengalaman Nadia Murad dan Yazda. Perjalanan Nadia dari menjadi korban sampai berkampanye meminta keadilan. Rosasiva.com melihat ini sebagai narasi utama pembentuk film ini. On Her Shoulders menghadirkan wajah manusia sebagai keputusasaan dan trauma emosional, korban yang tengah lantang berani melawan.(rsv)

 

Tags: ,