Rosasiva Buku Resensi – Thongchai Winichakul, Moments of Silence: The Unforgetting of the October 6, 1976, Massacre in Bangkok

Dini hari pada tanggal 6 Oktober 1976, polisi Thailand serta sekelompok geng sayap kanan merangsek Universitas Thammasat di Bangkok. Universitas Thammasat kala itu menjadi titik kumpul ribuan mahasiswa yang melakukan aksi protes kembali diktator yang dipaksa lengser pada tiga tahun sebelumnya ke Thailand. Kehancuran secara masif yang mengikutinya tak terbayangkan. Didorong pada siaran militer dengan menyebut gerakan mahasiswa merupakan plot komunis guna menggulingkan monarki, para penyerang dalam hal ini polisi Thailand serta geng sayap kanan menembak, memukuli, menyiksa serta menggantung mahasiswa pada hiruk-pikuk kekerasan yang menewaskan 46 orang (catatan samar yang dibuat versi polisi saat itu). Kudeta tercipta di hari yang sama, yang membuat ribuan mahasiswa serta aktivis ditangkap.

Thongchai Winichakul menjadi bagian dari ribuan mahasiswa itu, seorang pemimpin mahasiswa yang dimasa itu masih berumur 19 tahun. Thongchi Winichakul berlindung di belakang panggung sewaktu kebrutalan terjadi pagi itu, dengan lirih serta putus asa memohon dengan mikrofon ditangannya berulang kali agar segera dihentikan penembakan. Thongchai mendokumentasikan ke dalam bukunya dengan pribadi serta bahasan kuat pada Moments of Silence, lebih dari 40 tahun setelahnya. Banyak tentang pembantaian itu yang samar sampai hari ini mulai korban dengan identifikasi hingga pertanyaan mendalam serta betapa lebih berbahaya peran sebenarnya monarki dan militer.

Ada foto identik yang hari itu diambil sebagai pembantaian. Pada foto tersebut, seorang pria siap untuk mengayun-ayunkan kursi lipat ke atas tubuh tak bernyawa yang tergantung di pohon sembari para penonton berkerumun menyaksikannya. Hebatnya, meski foto tersebut menjadi pemenang Pulitzer, baik korban serta penyerang hingga tulisan ini dibuat belum teridentifikasi. Bagi seorang Thongchai, kesunyiaan melingkupi identitas kedua pria ini merupakan indikasi sebuah keheningan yang meluas tentang pembantaian yang sebagian besar terjadi di Thailand.

Namun diam, bagi Thongchai bukan hal yang sama dengan melupakan. Hal tersebut bukan menunjukkan tak ada sebuah makna atau bentuk amnesia pasif. Sebaliknya, ini merupakan “gejala tak mampu mengingat atau melupakan,” kondisi yang disebut Thongchai sebagai “tak melupakan”.

Sebuah pesan agar tak melupakan ini menjadi bentuk istilah Thongchai sebagai pengganti keheningan serta implikasinya. Fokus buku Moments of Silence ini, yang mengacu dari wawancara para penyintas serta pelaku, kesaksian, memoar, laporan otopsi serta foto dan bukti lainnya menjadi bagian penelitian lebih dari tiga dekade.

Penyebab yang sangat ketara dari ambiguitas dan keheningan yang terus berlanjut tentang pembantaian itu yaitu kepekaan keterlibatan monarki Thailand dengan kejelasan yang abu-abu. Langkah Thongchai terbilang berani, sebab menyelidiki yang terjadi di Thailand ini dimana kritik pada kriminalisasi monarki bisa timbul dampak serius serta oleh karena itu kebenaran seakan disensor dengan tekanan sendiri. Namun penindasan pada kebenaran merupakan satu faktor saja. Keheningan sukarela yang telah diadopsi para penyintas serta pelaku juga diidentifikasi merupakan cara mengatasi masa lalu traumatis.

Penggambaran Thongchai akan acara peringatan yang diadakan tahun 1996 silam sebagai tanda 20 tahun pembantaian itu sebagai hal penting untuk mengalihkan kekuasaan yang menuju ingatan korban-korban perusakan serta memberi jalan bagi ruang terbatas guna wacana. Acara tersebut menampilkan pidato, pameran, musik serta seni tentang pembantaian di area halaman kampus lokasi sama sewaktu mahasiswa sudah dibantai dua dekade sebelumnya. Tetapi, penyensoran diri terbukti juga, dengan panitia penyelenggara memilih menghapus foto kontroversial yang tentu saja ada ketakutan dapat memicu kontroversi penghancuran lainnya.

Gambar itu merupakan halaman depan sebuah surat kabar sayap kanan yang terbit di hari sebelum pembantaian itu terjadi. Pada gambar tersebut yang secara eksplosif menuduh para siswa melakukan kepura-puraan menggantung putra mahkota yang kini telah menjadi raja Thailand. Bahkan, aksi gantung tersebut menjadi bagian dari sandiwara yang dipentaskan oleh mahasiswa guna memprotes pembunuhan dua aktivis buruh yang ditemukan digantung di ruang umum beberapa waktu sebelumnya. Tuduhan itu bagai menuang bahan bakar pada sebuah api di saat histeria royalis serta paham anti-komunis merajalela.

Sebuah monumen dibangun pada 6 Oktober di Universitas Thammasat tahun 2000 silam. Sebentuk lempengan granit sepanjang enam meter, monumen itu bertuliskan tanggal pembantaian serta pahatan wajah beberapa mahasiswa yang tewas mengenaskan hari itu. Seorang Thongchai melihat monumen tersebut sekedar kenangan yang tersisa di tepian. Bahkan lokasinya, pada ruang tertutup di halaman universitas, menunjukkan memori yang seakan sengaja ada di pinggiran kesadaran publik. Fitur utama monumen, tanggal, adalah bentuk nama paling netral untuk pembantaian dimana fakta tak terbantahkan yaitu bagi Thongchai menunjukkan serupa peringatan yang hanya berbicara sebanyak yang diizinkan.

Meski seperti itu, dalam konteks saat ini di mana peringatan untuk peristiwa lain dalam sejarah Thailand seperti revolusi 1932, terus-menerus disingkirkan. Monumen 6 Oktober tetap menjadi penanda signifikan kekerasan negara Thailand di masa lalu. Buku ini merupakan studi yang kuat perihal bagaimana masa lalu yang penuh kekerasan bisa menghantui masyarakat ketika dibiarkan tanpa ada penanganan.

[directions title=”Fakta Publik Tragedi Universitas Thammasat”]

  1. Terjadi pada 46 tahun lalu
  2. Pembantaian terjadi setelah ada aksi teatrikal yang dilakukan oleh para mahasiswa Universitas Thammasat tentang eksekusi hukuman gantung terhadap Putra Mahkota Vajiralongkorn (Raja Thailand saat ini)
  3. Thammasat University serta Alun-Alun Sanam Luang di Bangkok menjadi tempat penghancuran lima ribu demonstran
  4. 6 Oktober 1976 dini hari waktu Thailand, Polisi yang dipersenjatai beragam persenjataan, seperti senapan mesin, pistol, dan peluncur granat menghancurkan bantai abis-abisan mahasiswa Thammasat.
  5. Pelajar serta mahasiswa ada juga yang menceburkan diri ke Sungai Chao Phraya karena ketakutan. Namun, kapal-kapal Angkatan Laut Thailand telah menanti serta segera menembak mati mereka

[/directions]

 

Tags: , ,